Jarak Realitas Kaum Intelektual – Jony Eko Yulianto

 

19369183_10213458795455010_1687216346_o

oleh: Jony Eko Yulianto

Dosen Psikologi Sosial Universitas Ciputra Surabaya

 

Situasi masyarakat tengah terpolarisasi ke dalam golongan-golongan sosial. Klaim ini sahih setidaknya jika didasarkan pada indikator menguatnya atensi selektif (selective attention), yaitu kecenderungan masyarakat untuk hanya bersedia mendengar pendapat yang sesuai dengan apa yang dipercayai oleh kelompoknya. Bahkan, pendapat itu kemudian direproduksi untuk membenarkan posisi kelompok sendiri (in-group favoritism) sambil menjelekkan kelompok lainnya (out-group derogation). Kondisi ini mengancam jati diri kita yang terkenal sebagai sebagai bangsa yang mengedepankan nilai-nilai musyawarah mufakat.

 

Polarisasi sosial penting mendapatkan perhatian kita karena baik secara langsung atau tidak langsung terkait esensi identitas bangsa Indonesia sebagai negara demokratis. Situasi sosial yang didominasi atensi selektif sangat rentan menumpulkan diskusi kritis dan mematikan nalar. Jika merunut kepada esensi demokrasi, sebenarnya kritik dan ketidakpuasan terhadap sebuah tata kelola pemerintahan adalah hal yang wajar saja. Tetapi kritik sebagai kontrol sosial demi kestabilan demokrasi hanya dapat berfungsi optimal ketika disampaikan secara dialogis.

 

Kerangka dialogis akan menghasilkan kritik yang substansif. Untuk menyusun bangunan kritik yang substantif, diperlukan sebuah pemahaman mendalam tentang substansi argumen lawan yang akan dikritik. Itu sebabnya situasi masyarakat yang terpolarisasi sulit menciptakan ruang-ruang dialektika karena setiap kelompok mempercayai bahwa diri dan kelompoknya sendiri adalah pihak yang benar tanpa bersedia secara utuh memahami sudut pandang pihak yang lain.

 

Efeknya bisa kita lihat. Fanatisme kelompok semakin menguat. Rasionalitas tidak mendapatkan tempat yang terhormat. Sentimen tentang identitas dimainkan dengan sedemikian mudah. Tokoh-tokoh pemersatu yang dahulu sangat dihormati mengalami delegitimasi karena berbeda pandangan politik. Informasi-informasi yang datang dengan mudah direproduksi dan direinterpretasi sesuai dengan kebutuhan.

 

Para peneliti psikologi sosial, khususnya di bidang perilaku di dunia maya, memperkenalkan istilah Eco Chambers untuk menunjukkan betapa selektifnya konsumsi informasi pada masyarakat yang terpolarisasi. Dengan kata lain, masyarakat kini cenderung hanya mengkonsumsi informasi yang diinginkan, dan hanya bersedia mendengarkan informasi dari orang-orang yang memiliki pemikiran serupa. Situasi yang diibaratkan seperti kehidupan di ruang gema.

 

Kejernihan Pandangan

Situasi masyarakat yang terpolarisasi membuat kebutuhan akan pandangan yang jernih dan mampu mengurai kekusutan sosial menjadi kebutuhan yang penting dan mendesak. Pandangan yang jernih ini salah satunya dapat diberikan oleh para intelektual, khususnya intelektual yang berjarak dari realitas. Intelektual yang menempatkan pandangan-pandangannya melampaui kepercayaan-kepercayaan subjektif yang justru menjadi akar terciptanya kubu dan golongan.

 

Dalam kehidupan berbangsa yang demokratis, kaum intelektual memiliki peran yang sangat penting dalam menjaga marwah nalar dan rasionalitas, baik dalam perilaku politik maupun dalam perilaku sosial masyarakatnya. Kaum terpelajar ini seharusnya menjadi sumber rujukan dalam melihat pola-pola perilaku sosial dan memberikan inspirasi pada masyarakat bagaimana harus menyingkapi konflik-konflik horizontal.

 

Di Vietnam, kata intelektual disebut sebagai “tri thuc”, yang merupakan kombinasi dari “mind” dan “awake”. Artinya, kehidupan sebagai seorang yang terdidik seharusnya menuntut kita juga untuk tetap memiliki nalar yang jernih dan tetap terjaga dari bias-bias kognitif yang sangat mungkin timbul oleh karena permainan sentimen sosial. Selain itu, adalah juga menjadi tugas para intelektual untuk membangunkan masyarakat dari gesekan-gesekan yang mungkin saja terjadi karena kekeliruan dalam berpikir.

 

Bertrand Russell melalui karyanya The Role of Intellectual in the Modern World bahkan menekankan pentingnya peran intelektual di tengah-tengah kehidupan sosial yang heterogen. Sebagai kelompok masyarakat yang beruntung menikmati kesempatan mengenyam pendidikan hingga ke level tertinggi, seharusnya kaum intelektual memiliki tanggung jawab moral yang besar pula untuk menjaga tatanan heterogen ini dari propaganda-propaganda. “Bisa lewat ucapan”, lanjut Russell, “Atau juga tindakan dan tulisan”.

 

Tetapi apa yang terjadi saat ini? Sangat disayangkan karena faktanya sebagian kaum intelektual justru terjebak dan menjadi bagian dari polarisasi sosial itu sendiri. Tingginya gelar akademis rupanya tidak menjamin seorang intelektual untuk tidak terjebak dalam sesat pikir. Hal ini secara psikologis dapat terjadi karena beberapa hal: Karena kebutuhan penegasan kepada publik bahwa ia memiliki sikap dan keberpihakan, karena kekuatiran untuk terlihat tidak kritis, karena tekanan untuk sepakat dengan ajaran keyakinan atau dorongan untuk memiliki sikap politik yang sama dengan keluarga, atau karena konstruksi ilmu pengetahuan yang tidak mantap.

 

Dorong dan Bantu

Adakah solusi untuk mengkonkretkan upaya revitalisasi peranan kaum intelektual dalam gerakan kebangsaan? Tulisan ini mengajukan dua mekanisme, yakni dorong dan bantu. Dorong di sini artinya mendorong pemerintah untuk memberikan fokus besar untuk membenahi situasi sosial yang terpolarisasi. Kaum intelektual memiliki kekuatan informasional (informational power) untuk mendesak pemerintah bahwa rekonsiliasi nasional merupakan agenda yang penting dan layak menjadi kerja prioritas karena berkaitan dengan identitas nasional sebagai negara bhinneka yang demokratis.

 

Sedangkan bantu di sini artinya turun tangan membantu pemerintah mempersiapkan mekanisme rekonsiliasi sosial untuk setiap warganya. Para intelektual dapat berperan sebagai rekan kerja pemerintah dalam menerjemahkan ide keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia dengan eksekusi-eksekusi terukur yang memungkinkan setiap orang mendapatkan fasilitas dan hak yang setara.

 

Jangan kita lupa bahwa bangsa kita bangkit berkat Soetomo dan para intelektual lain yang bersedia melampaui visi organisasi Boedi Oetomo menjadi visi besar kebangsaan. Artinya, kebangkitan intelektualisme kebangsaan di Indonesia ini lahir berkat sekelompok intelektual-intelektual yang tidak hanya berpikir eksklusif institusional, tetapi intelektual yang menjaga diri mereka untuk tetap menempatkan nilai-nilai kebangsaan di atas kepentingan pribadi dan golongan.

 

GoLive Indonesia menyampaikan terima kasih kepada Jony Eko Yulianto untuk sumbangan pemikirannya.

Bila anda berminat, silakan kirim tulisan ilmiah-populer anda dengan topik apa saja ke golive.moderator@gmail.com

Advertisements

Leave a comment

Filed under Psychology, Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s