Author Archives: GoLive Indonesia

About GoLive Indonesia

Think. Discuss. Tweet. Blog.

GoLive Indonesia Research Workshop: “Introduction to Nvivo” – 8 April 2017

Just after its annual event in 2017, 4th Indonesia Research Day, GoLive Indonesia held a workshop for the first time in year 2017 in the following day, Saturday, 8th April 2017. The activity took place in UB40 Yellow room in Nexus 10 building, The University of Adelaide. There were around 30 students attended the workshop, came prepared with Nvivo application installed in their laptops.

For Indra2

Opening greeting

The workshop started with a warm greeting from the new Project Coordinator of GoLive Indonesia, Indra Yohanes Kiling, followed by the tutor of the day, Ani Wilujeng Suryani, who is a Phd candidate in School of Commerce from University of South Australia. While waiting for the crowds to set up the application, she listed all the participants and asked them to up introduce their background. After everything settled, a brief explanation of Nvivo was given. In short, Nvivo is an application that aid in organizing a project with qualitative data such as research, proposals, essay, or interviews.

For Indra1

Ani Wilujeng Suryani sharing her experience

The workshop continue with explanation on every panels, buttons and its functions. After grasping the basic, Ani then demonstrates how to insert file(s) from external resources and group the information into a page with hyperlinks. It demonstrated the benefits of the application in linking information from several sources together. Later, digging a bit deeper, she showed the participants that Nvivo is also able to convert interview data from Microsoft Excel into a matrix table and word cloud.

For Indra3

A glimpse on the workshop

In the end of the event that ran for around 2 hours, people showed enthusiasm by asking how to use the application in a more complex functions, and requesting the recording of the workshop for future learning uses. Future practical workshop like this one might help to further equip university students in South Australia. The session was then closed with the group having a photo together.

GoLive Indonesia would like to thank Ani Wilujeng Suryani and highly appreciates all participants who attended this event. Also Swisin Budiman, GoLive Indonesia enthusiast for the recaps. We would like to wish Ani the best for her future career in Indonesia and to every participant the best for their study.

Photos courtesy of Vidi Valianto.

Leave a comment

Filed under Uncategorized, workshop

Media Interview: Indra Kiling talks about Social Rehabilitation in Human Trafficking Victims

Stop_Human_Trafficking

Shortly after presenting his research about “Social rehabilitation in human trafficking: Reflection on data of Human Trafficking in East Nusa Tenggara” in The 36th Indonesia Forum Postgraduate Roundtable, The University of Melbourne, our GoLive Indonesia Project Coordinator, Indra Kiling was approached for an interview with SBS Radio Australia: Indonesian program.

The interview, held on 17 April 2017, briefly discussed on how the effort of social rehabilitation in human trafficking victims could improve by improving awareness of related stakeholders that social rehabilitation is just as important as prosecuting perpetrators.

Listen more in http://www.sbs.com.au/guide/language/indonesian#/program/362882

Visit http://www.irgsc.org/slavery-in-indonesia.html for more information on human trafficking cases in East Nusa Tenggara, Indonesia.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Special Interview: David Parsons talks about GoLive Indonesia

Delighted to welcome David Parsons, GoLive Indonesia co-founder, in Adelaide. David shares on how GoLive Indonesia was initiated and ways to contribute to Indonesia.

Leave a comment

by | April 27, 2017 · 10:03 pm

Bahas Revolusi Mental, Indonesia Research Day Kembali Digelar di Adelaide

Lagu lawas berjudul Aryati, Indonesia Pusaka serta I Still Call Australia Home yang dibawakan kelompok Adelindo Angklung menandai dibukanya kegiatan Hari Riset Indonesia (Indonesia Research Day) ke-4 di Adelaide, Australia Selatan.

Kegiatan tahunan yang digelar 7 April 2017 di University of Adelaide ini mengangkat tema Revolusi Mental, sejalan dengan tema kebijakan Pemerintahan Joko Widodo.

Penyelenggara IRD, GoLive Indonesia menghadirkan dua pembicara utama. Yang pertama, Dr. Yayan Ganda Hayat Mulyana, Konsul Jenderal RI di Sydney, memaparkan revolusi mental sebagai bentuk transformasi perilaku, sikap dan tindakan individu.

“Mengingat kembali sejarah revolusi mental yang diusung sejak masa Kartini, Budi Utomo sampai dengan periode kepemimpinan Presiden Jokowi, hal ini menggambarkan bahwa gagasan ini telah diperjuangkan para pendiri bangsa untuk menjadi nilai luhur bangsa Indonesia,” paparnya.

8472404-16x9-medium

Profesor Christopher Findlay menyerahkan cindera mata t-shirt berlambang GoLive Indonesia kepada Konsul Jenderal Yayan Ganda Hayat Mulyana. (Foto: Kiriman/Vidi Valianto)

Yang kedua, Profesor Deborah Turnbull dari Fakultas Psikologi University of Adelaide menggarisbawahi pentingnya konsep revolusi mental dalam perilaku manusia.

Namun ia menambahkan pentingnya dimensi kesehatan mental dalam konsep revolusi mental untuk mencapai kesejahteraan hidup individu.

Dengan mengangkat isu-isu kesehatan mental seperti tingginya angka depresi pada negara berkembang dan terbatasnya akses pelayanan kesehatan mental, Prof. Turnbull mengajukan platform baru, sebuah revolusi kesehatan mental.

“Konsep revolusi kesehatan mental harus mengacu kepada dua prinsip utama kesehatan mental oleh WHO, yaitu, mendasarkan pada prinsip hak asasi manusia, dan memperluas pelayanan kesehatan mental dari tingkat anak usia dini sampai pada level komunitas,” ujarnya.

Profesor Christopher Findlay (Executive Dean of the Faculty of the Professions, University of Adelaide) yang juga turut menghadiri IRD ke-4 sebagai salah satu pendiri dan penyokong utama GoLive Indonesia mengapresiasi kegiatan ini.

IRD ditandai dengan diskusi panel dengan lima tema berbeda.

Didik Agus Suwarsono, mahasiswa S2 Fakultas Manajemen Lingkungan di Flinders University membuka diskusi pertama bertajuk Negara Maritim. Menurut Didik, ditetapkannya kebijakan Indonesia sebagai poros maritim dunia mengharuskan kita memahami tantangan yang dihadapi untuk mengembangkan budaya negara perairan dan solusinya.

“Dukungan finansial kepada pelaku industri perairan, pencemaran lingkungan dan mahalnya bahan pangan industri perikanan adalah tiga masalah utama yang harus dicermati, dan pemerintah perlu mempertimbangkan solusi alternatif yang mencakup tiga hal penting, yaitu politik, ekonomi dan ilmu pengetahuan,” jelasnya.

17523451_1160174900758169_5996190673141476661_n

Adriana Espejo Sanchez (berdiri) memoderatori Sesi Negara Maritim dengan panelis Arif Hidayatullah (tengah) dan Didik Agus Suwarsono (kanan). (Foto: Kiriman/Vidi Valianto)

Sementara Arif Hidayatullah, mahasiswa S2 di Fakultas Hukum di Flinders University, memaparkan implementasi hukum konvensi laut internasional seringkali memberi kendala bagi pemerintah memerangi praktek penangkapan ikan ilegal di perairan Indonesia.

Data tahun 2015 mencatat jumlah kapal penangkap ikan ilegal di perairan Indonesia lima kali lebih banyak dibandingkan kapal yang masuk dengan dokumen lengkap.

Permasalahan lain yang sangat umum terjadi adalah sulitnya membuktikan kepemilikan kapal yang sah dan keaslian dokumen. Oleh karena itu, tindakan penenggelaman dan pengeboman kapal adalah beberapa cara yang dilakukan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk memberikan efek jera.

Nuzul Qur’aniati, kandidat doktor dari Fakultas Keperawatan Flinders University, membuka pemaparan diskusi panel kedua yang bertemakan “Mempersiapkan Kebijakan Lokal di Indonesia”.

 

Nuzul mencatat permasalahan terbesar yang dihadapi, tidak saja oleh anak penderita HIV tapi juga keluarga mereka adalah stigma dan diskriminasi.

 

Namun, berkaca dari pengalaman sejumlah negara seperti India dan Uganda, program penitipan anak yang terintegrasi dengan pendekatan keluarga menjadi alternatif solusi yang sedang dikerjakan Nuzul dalam penelitiannya.

Suryo Guritno, kandidat doktor lainnya dari Fakultas Kebijakan Publik Flinders University, dalam panel kedua itu memaparkan tentang kebijakan pinjaman keuangan pemerintah pusat kepada pemerintah daerah dan faktor-faktor yang mempengaruhi, seperti transparansi penggunaan dan perencanaan keuangan.

Sementara diskusi panel ketiga tentang Industri Makanan dan Minuman, Sari Eka menceritakan tentang “Bakulan”, satu-satunya toko khas Indonesia di Adelaide. Nama Bakulan sendiri berasal dari Bahasa Jawa, yang artinya berjualan. Sedikitnya barang-barang Indonesia yang bisa ditemui di toko-toko Australia membuat ia dan suami memiliki ide untuk membuka sendiri toko Indonesia di Adelaide.

Berangkat dari kerinduan itu, Sari telah menjalankan toko Bakulan selama tiga tahun dan mengklaim bahwa 90% barang yang dijual adalah produk Indonesia asli.

“Saya berharap Bakulan tidak hanya sekedar menjadi toko yang menyediakan kebutuhan orang-orang Indonesia di Adelaide, tapi juga menjadi penyambung silaturahmi khususnya bagi komunitas Indonesia di Adelaide,” jelasnya.

8472406-16x9-large

Sesi foto bersama dengan Konsul Jenderal, perwakilan DFAT South Australia, Prof Findlay, Prof Turnbull, seluruh panelis dan peserta. (Foto: Kiriman/Vidi Valianto)

Pada diskusi panel keempat, tema Pendidikan sebagai Platform Pembangunan dibahas oleh Aryani Tri Wrastari, mahasiswa PhD dari Fakultas Pendidikan University of Adelaide.

 

Aryani menjelaskan bagaimana agama dapat menjadi modalitas budaya bagi guru sebagai agen perubahan di pendidikan.

 

Ia mewawancarai 13 pendidik di Indonesia dari lima latar belakang agama, Islam, Kristen, Hindu, Buddha, dan Katolik. “Penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi teori untuk mengembangkan model pendidikan yang memberikan dampak transformasi di Indonesia”, ujarnya.

Sementara Welmince Djulete dalam pemaparannya mengulas pentingnya peningkatan kualitas pendidikan di rural dan area tertinggal dengan mengimplementasikan model pendidikan yang berbasis masyarakat.

Kandidat doktor dari Fakultas Pendidikan di Flinders University ini memaparkan masalah klasik yang menghambat peningkatan kualitas guru, meliputi kurangnya dukungan fasilitas, panduan dan juga kebijakan pemerintah yang belum mampu menjawab kebutuhan guru.

Di sesi ini juga Yusnita Febrianti, kandidat doktor dari Fakultas Bahasa University of Adelaide mendiskusikan permasalahan dalam buku-buku teks Bahasa Inggris di kurikulum pendidikan menengah, khususnya kelas 7 dan 8.

Menurut Yusnita, visualisasi cerita yang buruk ditambah instruksi dan penjelasan yang tidak tepat sasaran maupun konteks akan sangat mempengaruhi proses belajar siswa. “Guru sangat dituntut untuk memiliki kepekaan dan pengetahuan dalam memilih buku teks yang tepat dalam hal isi dan visualisasinya”, tambahnya.

Diskusi panel terakhir membahas Kebijakan Luar Negeri RI. Panelis Sian Troath, mahasiswa PhD dari Jurusan Sejarah dan Hubungan Internasional University of Adelaide, menjelaskan dinamika kepercayaan yang mewarnai hubungan Indonesia-Australia dari masa kepemimpinan Soekarno dan Soeharto.

 

Sian menyimpulkan perlunya kajian intensif tentang hubungan bilateral Indonesia-Australia, agar dapat membantu memahami faktor-faktor yang mempengaruhi ketidakpastian dan ketidakpercayaan dalam relasi kedua negara.

 

Di sesi ini juga Yessi Olivia, kandidat doktor dari Jurusan Sejarah dan Hubungan Internasional Flinders University, memaparkan Kebijakan Bebas Aktif Luar Negeri RI dan dampaknya pada isu HAM.

Yessi memaparkan transisi arah kebijakan dari masa sebelum dan sesudah Presiden Habibie, sebagai tonggak baru demokrasi di Indonesia. Selain itu, Yessi juga menggarisbawahi peranan media di era teknologi informasi dalam mempengaruhi isu hak asasi manusia, terutama pada perempuan dan anak.

Selain menggelar diskusi, IRD ke-4 kali ini juga menandai pergantian dari Aritta Gracia Girsang yang telah menggelar GoLive Indonesia selama 3 tahun kepada Indra Yohanes Kiling. Tema psikologi juga mulai diperkenalkan pada gelaran IRD kali ini, menandai perluasan kajian dalam diskusi GoLive Indonesia yang selama ini lebih kental dengan tema-tema perdagangan, pertanian dan pangan.

* Sumbangan tulisan Aryani Tri Wrastari dan M. Nurul Ikhsan Saleh dari Adelaide. Tulisan ini merupakan pendapat pribadi.

*This article was originally published on Australia Pluls Indonesia, link provided here .

Leave a comment

Filed under Conference, Uncategorized

GoLive May Discussion Series: The Learning Experiences of International Students in an Australian University

Discussion series may

GoLive is back with the discussion series event for this upcoming May 2017. We are proudly bringing to the table the experience of Dr. Barry Elsey and Dr. Amina Omarova from the Entrepreneurship, Commercialisation and Innovation Centre (ECIC), University of Adelaide South Australia, in delivering a double degree master program, co-partnered with Bogor Agricultural Institute (IPB) Indonesia.

Drs Elsey and Omarova designed and managed an applied research learning program for a cohort of Indonesian students doing the split-site, double-degree Master’s program shared between University of Adelaide and IPB. All the students were employees of the Ministry of Industry, specifically employed on various kinds of agricultural development work.
The intention of the presentation is to set the teaching and learning program within the wider context of studies of international students in western universities, which is a significant development that began in the early 1980s. Dr. Elsey was among the first to undertake systematic research into the learning experiences of international students.
Many years later the opportunity arose to take a research interest into the learning experiences of the Indonesian students as they dealt with the many challenges of their life and study times in Adelaide, both the university and the city. We shall explain those various challenges of being an international student and the stakeholder interest in their success.

Titled “The Learning Experiences of International Students in an Australian University: A Case Study of Indonesian Public Servants Doing a Double Degree Master”, this May Discussion Series will be enriching the experience and knowledge of those who are looking for opportunities to devising similar program collaborated with Australian institutions.

Mark your calendar and RSVP via this link http://bit.ly/2ouheFO

Leave a comment

Filed under Collaboration, Discussion Series, Double degree master, Education, International student experience, networking

Panel on What the Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement means for SA Businesses

The University of Adelaide’s Institute for International Trade, in collaboration with the Australia Indonesia Business Council, invite you to attend a presentation and discussion panel on

What the Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement means for SA Businesses

Date: Tuesday, 9th May 2017

Venue: National Wine Centre, Corner of North Terrace and Hackney Road, Adelaide

Time: 7.30am for an 8am start, with breakfast and discussion concluding at 9.30am

Please CLICK HERE to register your attendance.

As the two largest economies in the region, Australia and Indonesia share interests and a common future. Although bilateral investment between Australia and Indonesia reached
$9.8 billion in 2015, there is still considerable opportunity for Australia to expand its trade, investment and economic cooperation with Indonesia.

The Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA) promises to build on existing multilateral and regional agreements, providing the framework needed to support a new era of closer economic engagement between Australia and Indonesia.

  • What do these developments mean for South Australian businesses? 
  • How can businesses benefit from these agreements? 
  • What support is available to help businesses expand into Indonesia, and Asian markets more broadly?

Join leading experts to discuss the next chapter of economic relations between Australia and Indonesia, learn from the firsthand experience of businesses successfully engaged in international trade in the region and find out what this means for South Australian businesses.

Speakers

  • Professor Christopher Findlay is Executive Director of the Institute for International Trade and Executive Dean of the Faculty of the Professions at The University of Adelaide. Professor Findlay is an economist with expertise in international trade policy and theory, services trade and public policy. He has published extensively on trade liberalisation, Free Trade Agreements and regional integration.
  • Mr Peter Roberts is First Assistant Secretary, Free Trade Agreement Division within the Department of Foreign Affairs and Trade and a lead negotiator on the IA-CEPA.
  • Mr Steven Baker is Chairman of the SA Branch of the Australia-Indonesia Business Council where he plays a vital leadership and lobbying role in the development of bilateral trade and investment.
  • Additional speakers to be announced.

For event enquiries, please contact Lisa Hunt via email at lisa.hunt@adelaide.edu.au or on 0421 359 518.

Futher event information can be found via this link.

Leave a comment

Filed under Economic Partnership, Indonesia, Trade

Memaknai Masa Awal di Adelaide by Nurul Ikhsan

17021351_10208867378384092_3073924937158213452_n

Setiap langkah yang saya lalui dalam hidup tentu akan selalu memiliki makna penting tersendiri, tak terkecuali kebermaknaan dalam keberangkatan saya pada akhirnya bulan Februari 2017 ke South Australia (SA), Adelaide, sampai saat ini. Bulan tersebut menjadi lembaran awal saya untuk menempuh Magister of Education pada The University of Adelaide (UofA) sampai dua tahun ke depan. Lewat tulisan ini, saya ingin berbagi kepada para membaca sekalian, beberapa catatan berharga dalam memaknai sepak terjang saya selama masa awal perkuliahan, baik yang berkaitan dengan aktivitas perkuliahan dan yang menyertainya.

IMG_5582-768x512

Rasa Terimakasih
Berterimakasih kepada Allah SWT adalah hal utama yang patut selalu saya jaga dan lakukan secara berkelanjutan. Tindakan inilah yang sering disebut sebagai rasa syukur. Saya merasa bahwa kemudahan yang saya dapatkan selama ini, dari mulai memasang mimpi kuliah di kampus yang punya reputasi tinggi, mengejarnya, dan menjaganya, tidak lepas dari intervensi Tuhan. Maka dari itu, saya selalu berusaha agar terus bersyukur untuk setiap pencapaian-pencapaian kecil yang telah diraih. Cara ini yang membuat saya tetap tegar di kala menghadapi tantangan hidup, semisal kegagalan dalam melamar beberapa beasiswa.

Selanjutnya, patut saya berterimakasih kepada negara Indonesia, lewat Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), Kementerian Keuangan, yang telah mendanai proses perkuliahan dan biaya hidup selama masa studi. Tentu sangat banyak yang telah saya dapatkan dari republik tercinta, bahkan jauh-jauh hari sebelum keberangkatan, saya telah mendapatkan Pengayaan Bahasa, tepatnya IELTS selama enam bulan. Lebih jauh lagi, saya telah lahir, makan dan minum dari bumi Indonesia.

Selain ucapan apresiasi bagi kedua orang tua (Saleh dan Madun), para guru, dan tak kalah pentingnya adalah rasa bangga saya bagi 116 teman yang luar biasa dalam kegiatan Persiapan Keberangkatan (PK-102) “Gema Arunika” di Wisma Hijau, Depok. Kesemuanya adalah bagian sumber semangat saya yang selalu akan menemani perjalan saya ke depan. Arunikers, thanks!

Manajemen Waktu
Pokok penting yang kedua, yaitu tentang manajemen waktu. Pada hari pertama saya sampai di Anzac Highway, Kurralta Park, tempat tinggal selama di SA, saya langsung menghitung berapa lama perjalanan yang dibutuhkan menuju kampus di North Terrace. Berdasarkan survei, saya menghabiskan waktu selama kurang lebih 30 menit perjalanan, dari mulai naik bis ditambah beberapa menit jalan kaki. Demi menjaga kemungkinan terlambat datang, saya pun memutuskan agar menyisihkan satu jam perjalanan. Semisal saya akan akan kuliah jam 8 a.m., saya pun sudah mulai berangkat jam 7 a.m. dari tempat saya tinggal, Unit 65 / 133. Bahkan saya biasa memilih tidak mandi sebelum kuliah jika dirasa akan membuat saya terlambat ke kampus. Karena saya biasa lebih memilih menyiapkan barang-barang yang akan saya bawa, berkas-berkas bahan pelajaran dan bekal makanan; roti, buah dan minuman.

Di samping itu, saya juga mengatur waktu dengan sangat cermat untuk penyelesaian tugas (assignment). Bukan hanya karena dosen di kampus tidak akan mentolerir keterlambatan tugas, saya memang selalu berusaha menyelesaikan tugas secepat mungkin, bahkan jika dosen memberikan waktu empat hari untuk mengerjakan, saya biasa menyelesaikan di hari yang sama saat malam hari. Tentu saja biasanya saya harus mengurangi waktu tidur. Salah satu contoh, kemarin malam saya hanya tidur empat jam demi menyelesaikan tugas, malam ini pun demi menyelesaikan tugas kampus dan tulisan ini, saya tidur tiga jam. Tidur jam 1 a.m., bangun jam 4 a.m.

Demi mendukung agar selalu tepat waktu, saya sengaja membeli gadget baru yang sekaligus ada paket internetnya. Saya menginstal aplikasi TripMate Adelaide Lite, yang berfungsi melihat jadwal kedatangan bis yang akan saya tumpangi ke kampus, aplikasi UA Student yang bisa membantu saya menunjukkan jadwal kuliah setiap harinya dengan detail, Stopwatch and Timer yang berfungsi untuk mengatur ketepatan waktu saya dalam melakukan persentasi, cara ini saya dapatkan ketika melihat persentasi TEDx yang sangat menjunjung tinggi ketepatan waktu. Dua hal lain yang saya lakukan adalah membeli papan besar yang saya taruh di kamar dengan menempelkan kertas kerta-kerta yang berisi nama tugas beserta timelinenya dan setiap saat melihat Calender di MyUni di mobile phone.

Kesungguhan
Sadar bahwa dibiayai dengan uang negara, saya pun memasang niat dari awal agar segala yang saya lakukan dibarengi dengan kesungguhan. Di samping ingin mendapatkan target nilai high distinction, saya melaksanakan tanggung jawab agar belajar dengan penuh rasa tanggung jawab. Dua prinsip yang saya pegang dari LPDP, datang hanya untuk belajar dan bersosial, yang selanjutnya saya tambahkan juga, untuk beribadah. Tantangan terbesar saya dalam menyelesaikan individual assignment dan group assignment adalah mengurangi waktu istirahat. Saya membayangkan aktivitas kuliah di sini adalah kelanjutan kegiatan PK. Patut saya berterimakasih kepada PIC PK, Muhammad Kamiluddin yang mengajarkan pentingnya melawan rasa kantuk. Saat  sampai di Adelaide, saya pasang rumus, jika saya bisa tidur dua jam sehari semalam saat PK, maka saya pun bisa ketika di sini.

Saya sadar bahwa meskipun saya terbilang datang terlambat ke Adelaide, tidak ada alasan untuk tidak sungguh-sungguh dalam semua hal. Bagi saya, kesempatan kuliah di Adelaide adalah anugerah yang luar biasa dari Allah. Di mana saya sudah menyiapkan lebih dari satu tahun belajar bahasa Inggris, menggunakan semua tabungan uang demi mengikuti beberapa tes IELTS, sampai-sampai motor saya pun dijual. Saya berusaha dengan totalitas. “Hidup hanya sekali, hiduplah dengan totalitas”, itulah mungkin motto yang sangat cocok buat saya. Saya biasa mengajak ketemu teman satu kelompok untuk menyelesaikan tugas kelompok, bertanya ke teman untuk jika kurang yakin dengan penjelasan dosen dan biasa bermalam-malam untuk baca jurnal dan menyelesaikan tugas online assignment.

Persaudaraan
Persaudaraan menjadi kata kunci penting lain yang tidak akan pernah lepas dari perjalanan saya selama ini. Saat pertama kali sampai di bandara yang ada di Adelaide, langsung dijemput oleh Mas Romi dan kemudian ditawari tempat tinggal oleh Mas Khusaini. Mas Khusaini pun yang kemudian di hari pertama sampainya saya di Adelaide, memberikan banyak bantuan; membantu dalam pengurusan kartu pelajar, metro card, membuka rekening di bank, mengurus enrollment, sampai kepada urusan memasak dan berbelanja kebutuhan sehari-hari. Ada pula mas Edy Purwanto yang bisa menemani perjalanan dan sharing bareng. Banyak sekali pelajaran yang saya dapatkan di masa-masa awal. Saya menanggapnya hal itu saya dapatkan dari jalinan persaudaraan.

Di samping itu, saya berusaha menjalin banyak persaudaraan yang sekaligus sebagai tempat belajar saya. Teman-teman dari Indonesia, baik dari kalangan penerima beasiswa LPDP dan AAS, mahasiswa internasional dari berbagai negara, dan empat dosen yang mengampu mata kuliah Research Design (Edward Palmer), Curriculum Development and Innovatin (Lynda Macleod), Educational Policy Studies (Joy de Leo) dan Reseach Communication (Robyn Groves). Keempat dosen ini yang telah mengajarkan saya dengan metode belajar flipped classroom. Sebuah metode pembelajaran dimana sebelum perkuliahan berlajangsung, sudah dipersiapkan dulu materi dan pemahaman lewat online learning. Sehingga ketika sudah sampai di ruang kelas, saya pun sudah memahami pelajaran yang akan dibahas baik pada kegiatan lecturing dan tutorial.

Semangat
Semangat adalah kata yang seringkali muncul dalam memori saya. Saya selalu berbisik kepada diri sendiri, jika saya ingin semangat terus sampai dua tahun ke depan, saya harus semangat terus dari awal. Mirip perkataan, jika kamu memulai dengan senyum di pagi hari, maka seluruh harimu akan dipenuhi dengan senyuman. Apabila memulai persentasi dengan penuh percaya diri, maka seluruh rangkaian persentasi akan dihiasi rasa percaya diri. Langkah-langkah kecil yang saya lakukan dalam rangka merawat semangat adalah menuliskan goal besar ke depan dan kata-kata semangat di atas kertas, yang keduanya ditempel di dinding kamar, mendengarkan dan menonton sharing inspiratif TEDx lewat youtube, membuat target harian, dan mendengarkan lagu-lagu menarik semisal dari Coldplay “A Sky Full of Stars”, atau best remixes 2017 untuk mengusir rasa kantuk, dan tentu saja memohon semangat dari Allah yang dibarengi permintaan dukungan dari kedua orang tua.

Itulah beberapa pelajaran yang bisa saya sharing kepada para pembaca sekalian. Dengan harapan bisa ada hikmah di baliknya. Sebagai pemuda Indonesia, saya memiliki tugas agar bisa menyebarkan hal-hal positif dan kebaikan. Salah satunya dengan berbagi lewat tulisan. Bagi pembaca sekalian, jika Anda adalah pemuda Indonesia, mari berbagilah, bisa lewat tulisan dan hal lain, karena saya yakin, satu kebaikan akan mengantarkan kepada kebaikan yang lain. Kebaikan tidak untuk disimpan dalam diri, tapi untuk inspirasikan. Satu pemuda adalah inspirator pada pemuda yang lainnnya, bahkan mungkin kepada yang lebih muda atau pun lebih tua. Saat ini Indonesia butuh pemuda-pemuda yang bisa melihat dari sudut pandang yang positif, menebar optimisme, dan berani berbagi.

Salam kebermaknaan,

M Nurul Ikhsan Saleh

Awardee LPDP PK 102

M Nurul Ikhsan Saleh is one of GoLive Indonesia enthusiasts, a student in The University of Adelaide funded by LPDP.

This post is originally posted in LPDP South Australia’s website. Reblogged with permission via Memaknai Masa Awal di Adelaide – LPDP South Australia

1 Comment

Filed under Student

%d bloggers like this: