Category Archives: Uncategorized

GoLive Indonesia Research Workshop: “Introduction to Nvivo” – 8 April 2017

Just after its annual event in 2017, 4th Indonesia Research Day, GoLive Indonesia held a workshop for the first time in year 2017 in the following day, Saturday, 8th April 2017. The activity took place in UB40 Yellow room in Nexus 10 building, The University of Adelaide. There were around 30 students attended the workshop, came prepared with Nvivo application installed in their laptops.

For Indra2

Opening greeting

The workshop started with a warm greeting from the new Project Coordinator of GoLive Indonesia, Indra Yohanes Kiling, followed by the tutor of the day, Ani Wilujeng Suryani, who is a Phd candidate in School of Commerce from University of South Australia. While waiting for the crowds to set up the application, she listed all the participants and asked them to up introduce their background. After everything settled, a brief explanation of Nvivo was given. In short, Nvivo is an application that aid in organizing a project with qualitative data such as research, proposals, essay, or interviews.

For Indra1

Ani Wilujeng Suryani sharing her experience

The workshop continue with explanation on every panels, buttons and its functions. After grasping the basic, Ani then demonstrates how to insert file(s) from external resources and group the information into a page with hyperlinks. It demonstrated the benefits of the application in linking information from several sources together. Later, digging a bit deeper, she showed the participants that Nvivo is also able to convert interview data from Microsoft Excel into a matrix table and word cloud.

For Indra3

A glimpse on the workshop

In the end of the event that ran for around 2 hours, people showed enthusiasm by asking how to use the application in a more complex functions, and requesting the recording of the workshop for future learning uses. Future practical workshop like this one might help to further equip university students in South Australia. The session was then closed with the group having a photo together.

GoLive Indonesia would like to thank Ani Wilujeng Suryani and highly appreciates all participants who attended this event. Also Swisin Budiman, GoLive Indonesia enthusiast for the recaps. We would like to wish Ani the best for her future career in Indonesia and to every participant the best for their study.

Photos courtesy of Vidi Valianto.

Leave a comment

Filed under Uncategorized, workshop

Media Interview: Indra Kiling talks about Social Rehabilitation in Human Trafficking Victims

Stop_Human_Trafficking

Shortly after presenting his research about “Social rehabilitation in human trafficking: Reflection on data of Human Trafficking in East Nusa Tenggara” in The 36th Indonesia Forum Postgraduate Roundtable, The University of Melbourne, our GoLive Indonesia Project Coordinator, Indra Kiling was approached for an interview with SBS Radio Australia: Indonesian program.

The interview, held on 17 April 2017, briefly discussed on how the effort of social rehabilitation in human trafficking victims could improve by improving awareness of related stakeholders that social rehabilitation is just as important as prosecuting perpetrators.

Listen more in http://www.sbs.com.au/guide/language/indonesian#/program/362882

Visit http://www.irgsc.org/slavery-in-indonesia.html for more information on human trafficking cases in East Nusa Tenggara, Indonesia.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Bahas Revolusi Mental, Indonesia Research Day Kembali Digelar di Adelaide

Lagu lawas berjudul Aryati, Indonesia Pusaka serta I Still Call Australia Home yang dibawakan kelompok Adelindo Angklung menandai dibukanya kegiatan Hari Riset Indonesia (Indonesia Research Day) ke-4 di Adelaide, Australia Selatan.

Kegiatan tahunan yang digelar 7 April 2017 di University of Adelaide ini mengangkat tema Revolusi Mental, sejalan dengan tema kebijakan Pemerintahan Joko Widodo.

Penyelenggara IRD, GoLive Indonesia menghadirkan dua pembicara utama. Yang pertama, Dr. Yayan Ganda Hayat Mulyana, Konsul Jenderal RI di Sydney, memaparkan revolusi mental sebagai bentuk transformasi perilaku, sikap dan tindakan individu.

“Mengingat kembali sejarah revolusi mental yang diusung sejak masa Kartini, Budi Utomo sampai dengan periode kepemimpinan Presiden Jokowi, hal ini menggambarkan bahwa gagasan ini telah diperjuangkan para pendiri bangsa untuk menjadi nilai luhur bangsa Indonesia,” paparnya.

8472404-16x9-medium

Profesor Christopher Findlay menyerahkan cindera mata t-shirt berlambang GoLive Indonesia kepada Konsul Jenderal Yayan Ganda Hayat Mulyana. (Foto: Kiriman/Vidi Valianto)

Yang kedua, Profesor Deborah Turnbull dari Fakultas Psikologi University of Adelaide menggarisbawahi pentingnya konsep revolusi mental dalam perilaku manusia.

Namun ia menambahkan pentingnya dimensi kesehatan mental dalam konsep revolusi mental untuk mencapai kesejahteraan hidup individu.

Dengan mengangkat isu-isu kesehatan mental seperti tingginya angka depresi pada negara berkembang dan terbatasnya akses pelayanan kesehatan mental, Prof. Turnbull mengajukan platform baru, sebuah revolusi kesehatan mental.

“Konsep revolusi kesehatan mental harus mengacu kepada dua prinsip utama kesehatan mental oleh WHO, yaitu, mendasarkan pada prinsip hak asasi manusia, dan memperluas pelayanan kesehatan mental dari tingkat anak usia dini sampai pada level komunitas,” ujarnya.

Profesor Christopher Findlay (Executive Dean of the Faculty of the Professions, University of Adelaide) yang juga turut menghadiri IRD ke-4 sebagai salah satu pendiri dan penyokong utama GoLive Indonesia mengapresiasi kegiatan ini.

IRD ditandai dengan diskusi panel dengan lima tema berbeda.

Didik Agus Suwarsono, mahasiswa S2 Fakultas Manajemen Lingkungan di Flinders University membuka diskusi pertama bertajuk Negara Maritim. Menurut Didik, ditetapkannya kebijakan Indonesia sebagai poros maritim dunia mengharuskan kita memahami tantangan yang dihadapi untuk mengembangkan budaya negara perairan dan solusinya.

“Dukungan finansial kepada pelaku industri perairan, pencemaran lingkungan dan mahalnya bahan pangan industri perikanan adalah tiga masalah utama yang harus dicermati, dan pemerintah perlu mempertimbangkan solusi alternatif yang mencakup tiga hal penting, yaitu politik, ekonomi dan ilmu pengetahuan,” jelasnya.

17523451_1160174900758169_5996190673141476661_n

Adriana Espejo Sanchez (berdiri) memoderatori Sesi Negara Maritim dengan panelis Arif Hidayatullah (tengah) dan Didik Agus Suwarsono (kanan). (Foto: Kiriman/Vidi Valianto)

Sementara Arif Hidayatullah, mahasiswa S2 di Fakultas Hukum di Flinders University, memaparkan implementasi hukum konvensi laut internasional seringkali memberi kendala bagi pemerintah memerangi praktek penangkapan ikan ilegal di perairan Indonesia.

Data tahun 2015 mencatat jumlah kapal penangkap ikan ilegal di perairan Indonesia lima kali lebih banyak dibandingkan kapal yang masuk dengan dokumen lengkap.

Permasalahan lain yang sangat umum terjadi adalah sulitnya membuktikan kepemilikan kapal yang sah dan keaslian dokumen. Oleh karena itu, tindakan penenggelaman dan pengeboman kapal adalah beberapa cara yang dilakukan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk memberikan efek jera.

Nuzul Qur’aniati, kandidat doktor dari Fakultas Keperawatan Flinders University, membuka pemaparan diskusi panel kedua yang bertemakan “Mempersiapkan Kebijakan Lokal di Indonesia”.

 

Nuzul mencatat permasalahan terbesar yang dihadapi, tidak saja oleh anak penderita HIV tapi juga keluarga mereka adalah stigma dan diskriminasi.

 

Namun, berkaca dari pengalaman sejumlah negara seperti India dan Uganda, program penitipan anak yang terintegrasi dengan pendekatan keluarga menjadi alternatif solusi yang sedang dikerjakan Nuzul dalam penelitiannya.

Suryo Guritno, kandidat doktor lainnya dari Fakultas Kebijakan Publik Flinders University, dalam panel kedua itu memaparkan tentang kebijakan pinjaman keuangan pemerintah pusat kepada pemerintah daerah dan faktor-faktor yang mempengaruhi, seperti transparansi penggunaan dan perencanaan keuangan.

Sementara diskusi panel ketiga tentang Industri Makanan dan Minuman, Sari Eka menceritakan tentang “Bakulan”, satu-satunya toko khas Indonesia di Adelaide. Nama Bakulan sendiri berasal dari Bahasa Jawa, yang artinya berjualan. Sedikitnya barang-barang Indonesia yang bisa ditemui di toko-toko Australia membuat ia dan suami memiliki ide untuk membuka sendiri toko Indonesia di Adelaide.

Berangkat dari kerinduan itu, Sari telah menjalankan toko Bakulan selama tiga tahun dan mengklaim bahwa 90% barang yang dijual adalah produk Indonesia asli.

“Saya berharap Bakulan tidak hanya sekedar menjadi toko yang menyediakan kebutuhan orang-orang Indonesia di Adelaide, tapi juga menjadi penyambung silaturahmi khususnya bagi komunitas Indonesia di Adelaide,” jelasnya.

8472406-16x9-large

Sesi foto bersama dengan Konsul Jenderal, perwakilan DFAT South Australia, Prof Findlay, Prof Turnbull, seluruh panelis dan peserta. (Foto: Kiriman/Vidi Valianto)

Pada diskusi panel keempat, tema Pendidikan sebagai Platform Pembangunan dibahas oleh Aryani Tri Wrastari, mahasiswa PhD dari Fakultas Pendidikan University of Adelaide.

 

Aryani menjelaskan bagaimana agama dapat menjadi modalitas budaya bagi guru sebagai agen perubahan di pendidikan.

 

Ia mewawancarai 13 pendidik di Indonesia dari lima latar belakang agama, Islam, Kristen, Hindu, Buddha, dan Katolik. “Penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi teori untuk mengembangkan model pendidikan yang memberikan dampak transformasi di Indonesia”, ujarnya.

Sementara Welmince Djulete dalam pemaparannya mengulas pentingnya peningkatan kualitas pendidikan di rural dan area tertinggal dengan mengimplementasikan model pendidikan yang berbasis masyarakat.

Kandidat doktor dari Fakultas Pendidikan di Flinders University ini memaparkan masalah klasik yang menghambat peningkatan kualitas guru, meliputi kurangnya dukungan fasilitas, panduan dan juga kebijakan pemerintah yang belum mampu menjawab kebutuhan guru.

Di sesi ini juga Yusnita Febrianti, kandidat doktor dari Fakultas Bahasa University of Adelaide mendiskusikan permasalahan dalam buku-buku teks Bahasa Inggris di kurikulum pendidikan menengah, khususnya kelas 7 dan 8.

Menurut Yusnita, visualisasi cerita yang buruk ditambah instruksi dan penjelasan yang tidak tepat sasaran maupun konteks akan sangat mempengaruhi proses belajar siswa. “Guru sangat dituntut untuk memiliki kepekaan dan pengetahuan dalam memilih buku teks yang tepat dalam hal isi dan visualisasinya”, tambahnya.

Diskusi panel terakhir membahas Kebijakan Luar Negeri RI. Panelis Sian Troath, mahasiswa PhD dari Jurusan Sejarah dan Hubungan Internasional University of Adelaide, menjelaskan dinamika kepercayaan yang mewarnai hubungan Indonesia-Australia dari masa kepemimpinan Soekarno dan Soeharto.

 

Sian menyimpulkan perlunya kajian intensif tentang hubungan bilateral Indonesia-Australia, agar dapat membantu memahami faktor-faktor yang mempengaruhi ketidakpastian dan ketidakpercayaan dalam relasi kedua negara.

 

Di sesi ini juga Yessi Olivia, kandidat doktor dari Jurusan Sejarah dan Hubungan Internasional Flinders University, memaparkan Kebijakan Bebas Aktif Luar Negeri RI dan dampaknya pada isu HAM.

Yessi memaparkan transisi arah kebijakan dari masa sebelum dan sesudah Presiden Habibie, sebagai tonggak baru demokrasi di Indonesia. Selain itu, Yessi juga menggarisbawahi peranan media di era teknologi informasi dalam mempengaruhi isu hak asasi manusia, terutama pada perempuan dan anak.

Selain menggelar diskusi, IRD ke-4 kali ini juga menandai pergantian dari Aritta Gracia Girsang yang telah menggelar GoLive Indonesia selama 3 tahun kepada Indra Yohanes Kiling. Tema psikologi juga mulai diperkenalkan pada gelaran IRD kali ini, menandai perluasan kajian dalam diskusi GoLive Indonesia yang selama ini lebih kental dengan tema-tema perdagangan, pertanian dan pangan.

* Sumbangan tulisan Aryani Tri Wrastari dan M. Nurul Ikhsan Saleh dari Adelaide. Tulisan ini merupakan pendapat pribadi.

*This article was originally published on Australia Pluls Indonesia, link provided here .

Leave a comment

Filed under Conference, Uncategorized

4th Indonesia Research Day Panelist: Didik Agus Suwarsono

Speakers Profiles_4thIRD-12

Didik Agus Suwarsono is currently a master student in Environmental Management at Flinders University. He received Bachelor Degree in Fishing Technology from Jakarta Fisheries University in 2009. Trainings and workshops in technical and managerial skills were successfully completed including SEAFDEC Regional Workshop on Offshore Fisheries in Southeast Asian Waters (Thailand, 2013); SEAFDEC Training Course and Workshop on Offshore and High Sea Fisheries Management in Indonesia (Indonesia, 2013); ASEAN-WEN and Freeland Foundation Workshop on Marine Special Investigation Group (MSIG) in Cebu, (Filipina, 2014); Training Workshop on Vessel Inspection and Enforcement Measures Against IUU Fishing Activities (Singapore, 2015)

He worked as seamen in Japanese Carrier Vessel from 2009 to 2010. In 2011, he joined the Ministry of Marine Affairs in Fisheries (MMAF) as surveillance planning officers in Directorate General of Marine and Fisheries Resources Surveillance. He has experiences on Evaluation of fishing vessel compliance in Indonesia and Regional Fisheries Management Organisations (RFMOs), Arafura-Timor Sea Sub-Regional Working Group, Indonesia-Australia Fisheries Surveillance Forum (IAFSF) and Supporting Team of Analysis and Evaluation of Ex-Foreign Fishing Vessel in Indonesia.

His research interests were focused on fisheries policy study, socio-economic impact of fisheries policy, community based surveillance, fisheries compliances and IUU Fishing issues.

In this year’s IRD, Didik Agus Suwarsono collaborated with Kurniawan (Master of Aquaculture Flinders University) and Vitas Atmadi Prakoso (MMAF Researcher) will elaborate on global maritime fulcrum (GMF) vision based on aquaculture perspective. This study will reveal the challenges and alternative solutions of Indonesia aquaculture development in supporting GMF vision.

Leave a comment

Filed under Conference, Uncategorized

4th Indonesia Research Day Schedule

Screen Shot 2017-04-06 at 2.25.46 pm

For your curiosity, this is our schedule for tomorrow’s 4th Indonesia Research Day. Don’t forget to bring your Eventbrite ticket!

Leave a comment

Filed under Uncategorized

4th Indonesia Research Day Keynote Presenter: Professor Deborah Turnbull

Speakers Profiles_4thIRD-11

Deborah Turnbull is an active teacher and researcher and combines these roles with senior administration activities at The University of Adelaide. She chairs the Gender Equity and Diversity Committee and sits on the Freemasons Foundation Centre for Men’s Health Management Committee, as well as serving on Council of the Kathleen Lumley College. She also chairs the Board of the Hut Community Centre. She teaches across all levels of psychology and is active in supervision of students enrolled in higher degrees by research.

She has wide experience in mental health issues and in 4th Indonesia Research Day, she will discuss on how Indonesia could improve mental health services in order to ensure the completion of a comprehensive mental revolution in the nation.

Leave a comment

Filed under Conference, Uncategorized

Ben Moseley talks about Maluku

Similar to previous years, GoLive Indonesia will be showing videos of recent research done on Indonesia leading to  our 4th Indonesia Research Day, 7 April 2017.

We proudly introduce Benjamin Moseley, PhD Candidate at the Department of History of University of Hawai’i at Mānoa and student affiliate at the East-West Center in Honolulu, USA talks about his Indonesian journey and his research on Maluku, Eastern Indonesia.”

See the video via our YouTube channel below:

GoLive Indonesia would like to thanks Ben for his time and other parties supporting the production of this video. 

Leave a comment

Filed under Indonesia, Research, Uncategorized

%d bloggers like this: