Panel on What the Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement means for SA Businesses

The University of Adelaide’s Institute for International Trade, in collaboration with the Australia Indonesia Business Council, invite you to attend a presentation and discussion panel on

What the Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement means for SA Businesses

Date: Tuesday, 9th May 2017

Venue: National Wine Centre, Corner of North Terrace and Hackney Road, Adelaide

Time: 7.30am for an 8am start, with breakfast and discussion concluding at 9.30am

Please CLICK HERE to register your attendance.

As the two largest economies in the region, Australia and Indonesia share interests and a common future. Although bilateral investment between Australia and Indonesia reached
$9.8 billion in 2015, there is still considerable opportunity for Australia to expand its trade, investment and economic cooperation with Indonesia.

The Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA) promises to build on existing multilateral and regional agreements, providing the framework needed to support a new era of closer economic engagement between Australia and Indonesia.

  • What do these developments mean for South Australian businesses? 
  • How can businesses benefit from these agreements? 
  • What support is available to help businesses expand into Indonesia, and Asian markets more broadly?

Join leading experts to discuss the next chapter of economic relations between Australia and Indonesia, learn from the firsthand experience of businesses successfully engaged in international trade in the region and find out what this means for South Australian businesses.

Speakers

  • Professor Christopher Findlay is Executive Director of the Institute for International Trade and Executive Dean of the Faculty of the Professions at The University of Adelaide. Professor Findlay is an economist with expertise in international trade policy and theory, services trade and public policy. He has published extensively on trade liberalisation, Free Trade Agreements and regional integration.
  • Mr Peter Roberts is First Assistant Secretary, Free Trade Agreement Division within the Department of Foreign Affairs and Trade and a lead negotiator on the IA-CEPA.
  • Mr Steven Baker is Chairman of the SA Branch of the Australia-Indonesia Business Council where he plays a vital leadership and lobbying role in the development of bilateral trade and investment.
  • Additional speakers to be announced.

For event enquiries, please contact Lisa Hunt via email at lisa.hunt@adelaide.edu.au or on 0421 359 518.

Futher event information can be found via this link.

Leave a comment

Filed under Economic Partnership, Indonesia, Trade

Memaknai Masa Awal di Adelaide by Nurul Ikhsan

17021351_10208867378384092_3073924937158213452_n

Setiap langkah yang saya lalui dalam hidup tentu akan selalu memiliki makna penting tersendiri, tak terkecuali kebermaknaan dalam keberangkatan saya pada akhirnya bulan Februari 2017 ke South Australia (SA), Adelaide, sampai saat ini. Bulan tersebut menjadi lembaran awal saya untuk menempuh Magister of Education pada The University of Adelaide (UofA) sampai dua tahun ke depan. Lewat tulisan ini, saya ingin berbagi kepada para membaca sekalian, beberapa catatan berharga dalam memaknai sepak terjang saya selama masa awal perkuliahan, baik yang berkaitan dengan aktivitas perkuliahan dan yang menyertainya.

IMG_5582-768x512

Rasa Terimakasih
Berterimakasih kepada Allah SWT adalah hal utama yang patut selalu saya jaga dan lakukan secara berkelanjutan. Tindakan inilah yang sering disebut sebagai rasa syukur. Saya merasa bahwa kemudahan yang saya dapatkan selama ini, dari mulai memasang mimpi kuliah di kampus yang punya reputasi tinggi, mengejarnya, dan menjaganya, tidak lepas dari intervensi Tuhan. Maka dari itu, saya selalu berusaha agar terus bersyukur untuk setiap pencapaian-pencapaian kecil yang telah diraih. Cara ini yang membuat saya tetap tegar di kala menghadapi tantangan hidup, semisal kegagalan dalam melamar beberapa beasiswa.

Selanjutnya, patut saya berterimakasih kepada negara Indonesia, lewat Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), Kementerian Keuangan, yang telah mendanai proses perkuliahan dan biaya hidup selama masa studi. Tentu sangat banyak yang telah saya dapatkan dari republik tercinta, bahkan jauh-jauh hari sebelum keberangkatan, saya telah mendapatkan Pengayaan Bahasa, tepatnya IELTS selama enam bulan. Lebih jauh lagi, saya telah lahir, makan dan minum dari bumi Indonesia.

Selain ucapan apresiasi bagi kedua orang tua (Saleh dan Madun), para guru, dan tak kalah pentingnya adalah rasa bangga saya bagi 116 teman yang luar biasa dalam kegiatan Persiapan Keberangkatan (PK-102) “Gema Arunika” di Wisma Hijau, Depok. Kesemuanya adalah bagian sumber semangat saya yang selalu akan menemani perjalan saya ke depan. Arunikers, thanks!

Manajemen Waktu
Pokok penting yang kedua, yaitu tentang manajemen waktu. Pada hari pertama saya sampai di Anzac Highway, Kurralta Park, tempat tinggal selama di SA, saya langsung menghitung berapa lama perjalanan yang dibutuhkan menuju kampus di North Terrace. Berdasarkan survei, saya menghabiskan waktu selama kurang lebih 30 menit perjalanan, dari mulai naik bis ditambah beberapa menit jalan kaki. Demi menjaga kemungkinan terlambat datang, saya pun memutuskan agar menyisihkan satu jam perjalanan. Semisal saya akan akan kuliah jam 8 a.m., saya pun sudah mulai berangkat jam 7 a.m. dari tempat saya tinggal, Unit 65 / 133. Bahkan saya biasa memilih tidak mandi sebelum kuliah jika dirasa akan membuat saya terlambat ke kampus. Karena saya biasa lebih memilih menyiapkan barang-barang yang akan saya bawa, berkas-berkas bahan pelajaran dan bekal makanan; roti, buah dan minuman.

Di samping itu, saya juga mengatur waktu dengan sangat cermat untuk penyelesaian tugas (assignment). Bukan hanya karena dosen di kampus tidak akan mentolerir keterlambatan tugas, saya memang selalu berusaha menyelesaikan tugas secepat mungkin, bahkan jika dosen memberikan waktu empat hari untuk mengerjakan, saya biasa menyelesaikan di hari yang sama saat malam hari. Tentu saja biasanya saya harus mengurangi waktu tidur. Salah satu contoh, kemarin malam saya hanya tidur empat jam demi menyelesaikan tugas, malam ini pun demi menyelesaikan tugas kampus dan tulisan ini, saya tidur tiga jam. Tidur jam 1 a.m., bangun jam 4 a.m.

Demi mendukung agar selalu tepat waktu, saya sengaja membeli gadget baru yang sekaligus ada paket internetnya. Saya menginstal aplikasi TripMate Adelaide Lite, yang berfungsi melihat jadwal kedatangan bis yang akan saya tumpangi ke kampus, aplikasi UA Student yang bisa membantu saya menunjukkan jadwal kuliah setiap harinya dengan detail, Stopwatch and Timer yang berfungsi untuk mengatur ketepatan waktu saya dalam melakukan persentasi, cara ini saya dapatkan ketika melihat persentasi TEDx yang sangat menjunjung tinggi ketepatan waktu. Dua hal lain yang saya lakukan adalah membeli papan besar yang saya taruh di kamar dengan menempelkan kertas kerta-kerta yang berisi nama tugas beserta timelinenya dan setiap saat melihat Calender di MyUni di mobile phone.

Kesungguhan
Sadar bahwa dibiayai dengan uang negara, saya pun memasang niat dari awal agar segala yang saya lakukan dibarengi dengan kesungguhan. Di samping ingin mendapatkan target nilai high distinction, saya melaksanakan tanggung jawab agar belajar dengan penuh rasa tanggung jawab. Dua prinsip yang saya pegang dari LPDP, datang hanya untuk belajar dan bersosial, yang selanjutnya saya tambahkan juga, untuk beribadah. Tantangan terbesar saya dalam menyelesaikan individual assignment dan group assignment adalah mengurangi waktu istirahat. Saya membayangkan aktivitas kuliah di sini adalah kelanjutan kegiatan PK. Patut saya berterimakasih kepada PIC PK, Muhammad Kamiluddin yang mengajarkan pentingnya melawan rasa kantuk. Saat  sampai di Adelaide, saya pasang rumus, jika saya bisa tidur dua jam sehari semalam saat PK, maka saya pun bisa ketika di sini.

Saya sadar bahwa meskipun saya terbilang datang terlambat ke Adelaide, tidak ada alasan untuk tidak sungguh-sungguh dalam semua hal. Bagi saya, kesempatan kuliah di Adelaide adalah anugerah yang luar biasa dari Allah. Di mana saya sudah menyiapkan lebih dari satu tahun belajar bahasa Inggris, menggunakan semua tabungan uang demi mengikuti beberapa tes IELTS, sampai-sampai motor saya pun dijual. Saya berusaha dengan totalitas. “Hidup hanya sekali, hiduplah dengan totalitas”, itulah mungkin motto yang sangat cocok buat saya. Saya biasa mengajak ketemu teman satu kelompok untuk menyelesaikan tugas kelompok, bertanya ke teman untuk jika kurang yakin dengan penjelasan dosen dan biasa bermalam-malam untuk baca jurnal dan menyelesaikan tugas online assignment.

Persaudaraan
Persaudaraan menjadi kata kunci penting lain yang tidak akan pernah lepas dari perjalanan saya selama ini. Saat pertama kali sampai di bandara yang ada di Adelaide, langsung dijemput oleh Mas Romi dan kemudian ditawari tempat tinggal oleh Mas Khusaini. Mas Khusaini pun yang kemudian di hari pertama sampainya saya di Adelaide, memberikan banyak bantuan; membantu dalam pengurusan kartu pelajar, metro card, membuka rekening di bank, mengurus enrollment, sampai kepada urusan memasak dan berbelanja kebutuhan sehari-hari. Ada pula mas Edy Purwanto yang bisa menemani perjalanan dan sharing bareng. Banyak sekali pelajaran yang saya dapatkan di masa-masa awal. Saya menanggapnya hal itu saya dapatkan dari jalinan persaudaraan.

Di samping itu, saya berusaha menjalin banyak persaudaraan yang sekaligus sebagai tempat belajar saya. Teman-teman dari Indonesia, baik dari kalangan penerima beasiswa LPDP dan AAS, mahasiswa internasional dari berbagai negara, dan empat dosen yang mengampu mata kuliah Research Design (Edward Palmer), Curriculum Development and Innovatin (Lynda Macleod), Educational Policy Studies (Joy de Leo) dan Reseach Communication (Robyn Groves). Keempat dosen ini yang telah mengajarkan saya dengan metode belajar flipped classroom. Sebuah metode pembelajaran dimana sebelum perkuliahan berlajangsung, sudah dipersiapkan dulu materi dan pemahaman lewat online learning. Sehingga ketika sudah sampai di ruang kelas, saya pun sudah memahami pelajaran yang akan dibahas baik pada kegiatan lecturing dan tutorial.

Semangat
Semangat adalah kata yang seringkali muncul dalam memori saya. Saya selalu berbisik kepada diri sendiri, jika saya ingin semangat terus sampai dua tahun ke depan, saya harus semangat terus dari awal. Mirip perkataan, jika kamu memulai dengan senyum di pagi hari, maka seluruh harimu akan dipenuhi dengan senyuman. Apabila memulai persentasi dengan penuh percaya diri, maka seluruh rangkaian persentasi akan dihiasi rasa percaya diri. Langkah-langkah kecil yang saya lakukan dalam rangka merawat semangat adalah menuliskan goal besar ke depan dan kata-kata semangat di atas kertas, yang keduanya ditempel di dinding kamar, mendengarkan dan menonton sharing inspiratif TEDx lewat youtube, membuat target harian, dan mendengarkan lagu-lagu menarik semisal dari Coldplay “A Sky Full of Stars”, atau best remixes 2017 untuk mengusir rasa kantuk, dan tentu saja memohon semangat dari Allah yang dibarengi permintaan dukungan dari kedua orang tua.

Itulah beberapa pelajaran yang bisa saya sharing kepada para pembaca sekalian. Dengan harapan bisa ada hikmah di baliknya. Sebagai pemuda Indonesia, saya memiliki tugas agar bisa menyebarkan hal-hal positif dan kebaikan. Salah satunya dengan berbagi lewat tulisan. Bagi pembaca sekalian, jika Anda adalah pemuda Indonesia, mari berbagilah, bisa lewat tulisan dan hal lain, karena saya yakin, satu kebaikan akan mengantarkan kepada kebaikan yang lain. Kebaikan tidak untuk disimpan dalam diri, tapi untuk inspirasikan. Satu pemuda adalah inspirator pada pemuda yang lainnnya, bahkan mungkin kepada yang lebih muda atau pun lebih tua. Saat ini Indonesia butuh pemuda-pemuda yang bisa melihat dari sudut pandang yang positif, menebar optimisme, dan berani berbagi.

Salam kebermaknaan,

M Nurul Ikhsan Saleh

Awardee LPDP PK 102

M Nurul Ikhsan Saleh is one of GoLive Indonesia enthusiasts, a student in The University of Adelaide funded by LPDP.

This post is originally posted in LPDP South Australia’s website. Reblogged with permission via Memaknai Masa Awal di Adelaide – LPDP South Australia

1 Comment

Filed under Student

Introducing Indra Yohanes Kiling, GoLive Indonesia Project Coordinator.

GoLive Indonesia congratulates Indra Yohanes Kiling on his appointment as our new GoLive Indonesia Project Coordinator.

DSCF7174

Left to right: Prof. Christopher Findlay, Gracia Girsang and Indra Yohanes Kiling.

Indra’s appointment is announced as part of the 4th Indonesia Research Day, 7 April 2017 at Ingkarni Wardli Conference Room, the University of Adelaide. Indra takes up the baton of Project Coordinator from Gracia Girsang. He is currently a PhD student at the School of Psychology, Faculty of Health and Medical Science, The University of Adelaide.

In this occasion, Prof. Christopher Findlay, GoLive Indonesia co-founder, formally announces the change in command and begins the procession by showing his appreciation and acknowledgement towards Gracia‘s effort, dedication and commitment the past three years. He then welcomes and expresses his enthusiasm and support for Indra, as the third generation of GoLive Indonesia Coordinator, and his team for the years to come.

DSCF7164

Indra Yohanes Kiling – GoLive Indonesia Project Coordinator

In addition, Prof. Findlay believes that GoLive Indonesia and the Indonesia Research Day is an institution of the University of Adelaide and hopes this will continue to serve as a platform for dialogue and discussion on Indonesia. He emphasises the importance of perpetuating aspects of GoLive activities (the blog, physical events and social media use) moving forward, especially in utilising these strategies as a virtuous cycle for GoLive Indonesia endeavour.

Again congratulations Gracia and Indra! Thank you very much for the hard work and collaboration effort. We look forward to advancing GoLive Indonesia under the new leadership.

Photos courtesy of Vidi Valianto. 

Leave a comment

Filed under IndonesiaResearchDay

4th Indonesia Research Day Panelist: Didik Agus Suwarsono

Speakers Profiles_4thIRD-12

Didik Agus Suwarsono is currently a master student in Environmental Management at Flinders University. He received Bachelor Degree in Fishing Technology from Jakarta Fisheries University in 2009. Trainings and workshops in technical and managerial skills were successfully completed including SEAFDEC Regional Workshop on Offshore Fisheries in Southeast Asian Waters (Thailand, 2013); SEAFDEC Training Course and Workshop on Offshore and High Sea Fisheries Management in Indonesia (Indonesia, 2013); ASEAN-WEN and Freeland Foundation Workshop on Marine Special Investigation Group (MSIG) in Cebu, (Filipina, 2014); Training Workshop on Vessel Inspection and Enforcement Measures Against IUU Fishing Activities (Singapore, 2015)

He worked as seamen in Japanese Carrier Vessel from 2009 to 2010. In 2011, he joined the Ministry of Marine Affairs in Fisheries (MMAF) as surveillance planning officers in Directorate General of Marine and Fisheries Resources Surveillance. He has experiences on Evaluation of fishing vessel compliance in Indonesia and Regional Fisheries Management Organisations (RFMOs), Arafura-Timor Sea Sub-Regional Working Group, Indonesia-Australia Fisheries Surveillance Forum (IAFSF) and Supporting Team of Analysis and Evaluation of Ex-Foreign Fishing Vessel in Indonesia.

His research interests were focused on fisheries policy study, socio-economic impact of fisheries policy, community based surveillance, fisheries compliances and IUU Fishing issues.

In this year’s IRD, Didik Agus Suwarsono collaborated with Kurniawan (Master of Aquaculture Flinders University) and Vitas Atmadi Prakoso (MMAF Researcher) will elaborate on global maritime fulcrum (GMF) vision based on aquaculture perspective. This study will reveal the challenges and alternative solutions of Indonesia aquaculture development in supporting GMF vision.

Leave a comment

Filed under Conference, Uncategorized

4th Indonesia Research Day Schedule

Screen Shot 2017-04-06 at 2.25.46 pm

For your curiosity, this is our schedule for tomorrow’s 4th Indonesia Research Day. Don’t forget to bring your Eventbrite ticket!

Leave a comment

Filed under Uncategorized

4th Indonesia Research Day Keynote Presenter: Professor Deborah Turnbull

Speakers Profiles_4thIRD-11

Deborah Turnbull is an active teacher and researcher and combines these roles with senior administration activities at The University of Adelaide. She chairs the Gender Equity and Diversity Committee and sits on the Freemasons Foundation Centre for Men’s Health Management Committee, as well as serving on Council of the Kathleen Lumley College. She also chairs the Board of the Hut Community Centre. She teaches across all levels of psychology and is active in supervision of students enrolled in higher degrees by research.

She has wide experience in mental health issues and in 4th Indonesia Research Day, she will discuss on how Indonesia could improve mental health services in order to ensure the completion of a comprehensive mental revolution in the nation.

Leave a comment

Filed under Conference, Uncategorized

Ben Moseley talks about Maluku

Similar to previous years, GoLive Indonesia will be showing videos of recent research done on Indonesia leading to  our 4th Indonesia Research Day, 7 April 2017.

We proudly introduce Benjamin Moseley, PhD Candidate at the Department of History of University of Hawai’i at Mānoa and student affiliate at the East-West Center in Honolulu, USA talks about his Indonesian journey and his research on Maluku, Eastern Indonesia.”

See the video via our YouTube channel below:

GoLive Indonesia would like to thanks Ben for his time and other parties supporting the production of this video. 

Leave a comment

Filed under Indonesia, Research, Uncategorized