Tag Archives: #MajubersamaGoLiveIndonesia

Networking Event – A collaboration by the School of Education and GoLive Indonesia

GoLive Indonesia in collaboration with the School of Education, University of Adelaide co-host an afternoon tea networking event on 10 February 2017, at SMaRTE Room 812, Nexus 10 Building, Adelaide

img_57131

This networking event welcomes 24 Australia Awards Short Course Participants from various institutions in Indonesia. These participants will be in Adelaide for two-month studying Graduate Certificate on Educational Assessment: National Assessment and Computer-based testing at the University of Adelaide.

img_57401

The head of School of Education, Dr. Jan Keightley, officially welcomes the students to Adelaide. The Director of DFAT South Australia, Dave Gordge, said his remarks representing Australia Awards. And, our GoLive Indonesia project coordinator, Gracia Girsang, also welcome the students and invited guests and emphasize the importance of networking and collaboration initiative between Indonesia and Australia.

img_57411

Dr. Jan Keightley, Head of School, School of Education, The University of Adelaide

img_57391

Left: Dr. I Gusti Darmawan (Lecturer, School of Education). Right: Dave Gordge (Director, DFAT South Australia)

GoLive Indonesia is grateful to have the opportunity to host this event. We wish all the students the best for their studies in Adelaide and look forward to your participation in our regular events.

Below are testimonials from some of the students about the networking event:

Ari Arifin Danuwijaya (Lecturer, Universitas Pendidikan Indonesia – Bandung) “We had a great fun meeting great academic staff and students from in Adelaide. This is such as warm welcome for us and made our first week here in Adelaide alive. Bravo, GoLive Indonesia. We hope that we can participate in more GoLive events during our stay in Adelaide”.

Airin Triwahyuni (Lecturer, UNPAD Bandung) “Thank you for welcoming us, GoLive Indonesia. It is very nice to meet many new faces and people from different background. And it is always encouraging to meet people from the same background but with different experinence. Yes, it is a fabulous networking time”,. 

Dimar Aryo Wicaksono (Lecturer, Airlangga University – Surabaya) “Yesterday’s event was so amazing, it gives me a chance to build network and having fun together with Australian Givernment. Thank you so much GoLive Indonesia”. 

 

 

Advertisements

Leave a comment

Filed under Australia Awards, Education, networking

Indonesia Research Day Kembali Digelar di Universitas Adelaide

Hari Riset Indonesia (Indonesia Research Day atau IRD) digelar di University of Adelaide Australia pekan lalu. Seminar tahunan ini merupakan kerjasama GoLive Indonesia dan PPIA South Australia didukung Faculty of Professions, University of Adelaide.

Kegiatan kali ini merupakan yang ketiga kalinya, dibuka dengan alunan musik tradisional Jawa Barat oleh Adelindo Angklung. Untuk tahun ini, terpilih total 13 pembicara yang dibagi dalam 4 tema panel diskusi, yakni sesi Perdagangan, Umum, Pemerintahan, dan Budaya.

IMG_9927

Duta Besar Indonesia untuk Australia berfoto bersama panelis, moderator dan peserta 3rd Indonesia Research Day. 

GoLive Indonesia merupakan inisiatif Mari Elka Pangestu (Menteri Perdagangan RI periode 2004-2011, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif periode 2011-2014) bersama Prof. Christopher Findlay (Executive Dean of the Faculty of the Professions,University of Adelaide) dan David Parsons (KADIN). Tujuannya, mendorong diskusi mengenai pembangunan ekonomi di Indonesia, khususnya terkait isu pemberantasan kemiskinan, lingkungan (perubahan iklim), perdagangan dan bisnis, investasi, serta pengembangan sumber daya manusia.

Dubes RI untuk Australia Nadjib Riphat Kesoema membuka seminar ini dengan memaparkan peluang dan tantangan kedua negara misalnya isu perubahan demografi. Pada 2030, katanya, Indonesia diprediksi memiliki populasi sebanyak 285 juta jiwa yang mayoritas berusia muda dan produktif, sedangkan Australia sebanyak 27 juta jiwa yang mayoritas diklasifikasi pasca-produktif.

Menurut dia, dengan bertambahnya jumlah penduduk, Indonesia dan Australia harus meningkatkan standar kehidupan dan ekonomi masyarakat secara keseluruhan. Hal ini dapat tercapai dengan memperbaiki perencanaan pembangunan serta kebijakan yang mengarah pada peningkatan produktivitas, peluang bisnis, menanamkan budaya inovasi dan riset ilmiah. “Kedua negara saat ini sudah memiliki hubungan kerjasama yang cukup kuat,” ujar Dubes Nadjib.

“Dalam bidang perdagangan, nilai kerjasama bilateral mencapai AUD 14 milyar dan masih dapat terus bertambah. Kedepannya, diharapkan kerjasama Indonesia dan Australia akan semakin erat khususnya dalam bidang ekonomi, perdagangan, investasi, pendidikan, dan counter-terorisme,” tambahnya.

Sementara itu Prof. Christopher Findlay, Dekan Eksekutif Fakultas Professions University of Adelaide, mempresentasikan risetnya mengenai peran sektor jasa sebagai pendorong percepatan ekonomi di Indonesia, khususnya dalam konteks ASEAN.

Prof. Findlay menyebutkan, sektor Jasa saat ini sudah berkontribusi sebesar 43% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada 2015.

Namun persentase tersebut masih kecil jika dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya seperti Singapura, Vietnam, dan Thailand. Salah satu pendiri GoLive Indonesia tersebut menganalisa terdapat empat faktor utama yang menyebabkan tersendatnya sektor jasa di Indonesia, yakni minim apresiasi terhadap insentif, kurangnya koordinasi antar lembaga pemerintah terkait, kebijakan yang kompleks dan sulit dipahami (khususnya oleh pihak asing), serta pasar yang terlalu sensitif terhadap perubahan.

Prof Findlay memberikan dua poin rekomendasi untuk mendorong pertumbuhan sektor jasa di Indonesia, yakni mendorong transparansi dan kejelasan informasi kebijakan pemerintah, serta meingkatkan keterlibatan Indonesia dalam komitmen internasional seperti ASEAN, APEC, maupun bilateral dengan Australia.

_DSC8716

Steven Baker – Chairman AIBC South Australia (kiri), Muhammad Taufan – Moderator (tengah) dan Agung Haris – Ketua ITPC Sydney (kanan). 

Sesi pertama diskusi panel mengangkat topik perdagangan dengan pembicara Agung Haris, Kepala Indonesia Trade Promotion Centre (ITPC) dan Steven Baker, Ketua Australia-Indonesia Business Council regional Australia Selatan (AIBC).

Sesi ini membahas peluang bisnis dan investasi baik di Indonesia maupun Australia. Steven Baker secara khusus memberikan pandangan pelaku bisnis di Australia ketika bekerjasama dengan Indonesia, “implementasi kebijakan yang belum sampai ke bawah, hambatan perdagangan, dan ketidakjelasan informasi (perihal registrasi bisnis, aturan investasi, dsb) masih menjadi tantangan besar.”

Namun ia menjelaskan bahwa kerjasama bisnis antara dua negara sudah mengalami peningkatan dengan adanya kerjasama antar regional. “Misalnya kerjasama South Australia dengan Jawa Barat, proyek Solar Power di Maluku, proyek terminal 3 bandara Soekarno Hatta, dan pengadaan spare part untuk PINDAD,” ujarnya menutup sesi pertama.

Sesi kedua mendiskusikan mengenai perdagangan dan bisnis di Indonesia. Fajar Hirawan, kandidat Ph.D di University of Sydney mempresentasikan bagaimana ketegangan politik diantara Indonesia dan Australia mempegaruhi perdagangan bilateral diantara kedua negara tersebut. Hasil risetnya menunjukan bahwa perisitwa bom Bali memberikan efek yang lebih besar pada perdagangan bilateral dibandingkan isu-isu politik pada masa setelah Orde Baru hingga masa pemerintahan SBY.

Pembicara selanjutnya adalah Ani Wilujeng Suryani, kandidat Ph.D di University of South Australia. Risetnya menganalisa preferensi lulusan Akuntasi yang cenderung memilih berkarir di pemerintahan atau korporasi dibandingkan di Kantor Akuntan Publik (KAP).

Sesi kedua ditutup oleh pembicara ketiga, Leah Wilson. Mahasiswi University of Adelaide ini memparkan bagaimana industri busana memberi dampak negatif pada masyarakat dan lingkungan di Indonesia, melalui proses produksi yang tidak berkesinambungan hingga dampak sosial yang ditimbulkan.

_DSC8779

Monica Hartanti – Moderator Panel perdagangan dan bisnis, Fajar Hirawan – kandidat Phd University of Sydney, Ani Wilujeng Suryani – kandidat PhD University of South Australia dan Leah Wilson – pelajar double Bachelor  Studi international dan Studi pembangunan di University of Adelaide. 

Sesi ketiga mengangkat topik pemerintahan dan reformasi birokrasi. Pembicara pertama, Maryke Van Dierman, kandidat Ph.D di University of Adelaide, mempresentasikan risetnya mengenai peran Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dalam memberikan perlindungan sosial di Indonesia.

“Setelah masa Orde Baru, LSM mempunyai peranan penting dalam mengadvokasi perlindungan sosial ke tahap yang lebih jauh. Sebagai contoh, LSM dapat mempengaruhi pemerintah untuk mengesahkan kebijakan BPJS,” ujarnya.

Panelis kedua Sukendar, kandidat Ph.D di Flinders University memaparkan efektivitas Perlindungan Terpadu Penanganan Kekerasan (PTPK) di Semarang dan Cilacap dalam mengadvokasi korban Kekerasan Domestik dalam Rumah Tangga (KDRT). Namun, masih ada beberapa tantangan dalam implementasi di lapangan, misalnya kurangnya koordinasi antar pihak terkait, staf yang kurang berpengalaman, lemahnya komunikasi dengan LSM, serta tidak adanya payung hukum di tingkat daerah.

Pembicara ketiga, Muhammad Maulana, kandidat Master di Flinders University, mengkritisi Kabinet Indonesia Bersatu II (periode 2011-2015) yang dianggap gagal dalam mengalokasikan 5% dana kesehatan sebagaimana tercantum dalam APBN.

Panelis terakhir adalah Mochamad Mustafa, kandidat Ph.D di University of Adelaide, menganalisa dinamika politik lokal yang mempengaruhi reformasi birokrasi dalam hal ‘lelang’ (procurement) di Surabaya dan Bogor.

Lebih jauh, Mustafa melihat bahwa reformasi birokrasi tidak dapat dilakukan oleh pihak tunggal (pemimpin daerah), namun juga seluruh aktor di daerah tersebut. Surabaya dianggap berhasil melakukan reformasi di bidang ‘lelang’ karena institusi akademis, media, dan LSM pro-reformasi, yang pada akhirnya berhasil mengurangi tingkat korupsi di daerah. Sebaliknya di Bogor, minimnya aktor pro-reformasi menyebabkan ‘lelang bersih’ masih tersendat.

IMG_2742

Koordinator GoLive Indonesia – Aritta Gracia Girsang (tengah) berfoto bersama para panelis sesi Budaya Ferry & Yenny, Suryo Guritno, Brett Caliss dan Emily Rustanto (dari kiri ke kanan). 

Sesi terakhir membahas bagaimana kekuataan budaya yang dapat merekatkan kedua negara. Adelindo Angklung menyampaikan kesan dalam memperkenalkan budaya Indonesia melalui musik angklung di Australia Selatan.

Senada dengan Adelindo, Rebana El-Musafeer menceritakan pengalamannya dalam membawa misi perdamaian melalui musik rebana yang identik dengan nuansa islami. “Dengan musik, kita belajar menerima perbedaan, dan karenanya kita bisa menjadi teman,” ujar Suryo Guritno.

Brett Caliss dan Emily Rustanto, warga Australia yang belajar bahasa dan budaya Indonesia di beberapa tempat di Indonesia, menceritakan pengalaman mereka ketika hidup bersama masyarakat di Jogjakarta, Jawa Timur, Sumatera Barat, dan Kalimantan. “Misi pertukaran seni dan budaya dapat menjadikan dua negara ini lebih dekat,” ujar Brett, Direktur Artistik IndoFest yang dapat memainkan beberapa alat musik tradisional Indonesia ini.
Penyelenggaraan 3rd Indonesia Research Day kali ini mendapatkan banyak sekali dukungan dan partisipasi positif dari masyarakat dan pemerhati Indonesia khususnya mereka yang berada di Adelaide, Australia Selatan.

Ferly Komul, salah satu peserta IRD dan juga pelajar Master of Petroleum Engineering di University of Adelaide, mengungkapkan dukungannya terhadap acara tahunan GoLive Indonesia tersebut.

Dia juga menambahkan bahwa “Acara seperti ini sangat bagus untuk dijadikan forum bertukar pikiran antara semua lapisan masyarakat pemerhati Indonesia. Semoga acara ini bisa terus dilanjutkan dan bisa mewadahi lebih banyak lagi topik-topik bahasan”.

Koordinator GoLive Indonesia, Aritta Gracia Girsang, mengungkapkan rasa syukur dan terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi sehingga acara 3rd Indonesia Research Day tahun ini berjalan dengan lancar dan menjadi ajang Indonesia Research Day terbesar semenjak diluncurkan pada tahun 2014.

*This article is written by Naimah Lutfi, and was originally published on Australia Pluls Indonesia, link provided here .

Leave a comment

Filed under Conference, Research, Uncategorized

Registration Open : 3rd Indonesia Research Day – 12 August 2016

3rd Indonesia Research Day (IRD) registration is open. Our IRD invites those interested in Indonesia to come along and take part in our research day.

This year, we are honoured to have the Indonesian Ambassador to Australia giving the opening remarks and Prof. Christopher Findlay as our keynote presenter, where he will elaborate on “Trade Service in Indonesia”.

We also have a handful of excellent presenters for our panels. Stay tuned to see their profile in the coming weeks.

Detailed information can be seen in the flyer below. Make sure you book your spot early! RSVP via http://bit.ly/29Glv6A

IRD event flyer 1.0 copyMap of IRD 2nd - 12 Oct 2015

Leave a comment

Filed under Conference, Indonesia, Trade

Risti Permani talks about Smallholders-inclusive business model

Leading to our 3rd Indonesia Research Day, 12 August 2016, GoLive Indonesia will be showing videos of recent research done on Indonesia.

This next video is from Risti Permani, PhD.  Risti talks about her recent projects that looks at smallholders-inclusive business model. See the video via our YouTube channel below:

 

Leave a comment

Filed under Research, Uncategorized

Dias Satria talks about artisan tuna fishing economy – GoLive Talk Video

Leading to our 3rd Indonesia Research Day, 12 August 2016, GoLive Indonesia will be showing videos of recent research done on Indonesia.

This next video is from Dias Satria, PhD.  Dias’s research discuss about Governance structure in artisan tuna fishing economy. See the video via our YouTube channel below:

Leave a comment

Filed under Indonesia, Research, Uncategorized

GoLive Talk presents Gatot Soepriyanto

Leading to our 3rd Indonesia Research Day, 12 August 2016, GoLive Indonesia will be showing videos of recent research done on Indonesia.

This first video is from Gatot Soepriyanto, PhD Candidate – Accounting Department at Monash Univesity. Gatot’s research discuss about corporate tax avoidance and fraud. See the video via our YouTube channel below:

 

Gatot also recently published his opinion on the benefit of Indonesia’s Tax Amnesty. You can the first part here and the second part here.

GoLive Indonesia appreaciate the time and effort given by Gatot Soepriyanto for this GoLive Talk Video series. Best of luck for your studies.

Leave a comment

Filed under Indonesia, Research, Tax

Dr. Risti Permani talks about GoLive Indonesia

Dr. Risti Permani shares experiences and benefit of actively contributing to GoLive Indonesia and how GoLive Indonesia network would be advantageous for early-career researchers.

You can watch her testimonial below here or go to our GoLive Indonesia YouTube Channel.

 

Leave a comment

Filed under #testimonial, Uncategorized